日本航空の復活から学ぶこと

昔、日本航空(JAL)という名前は、世界で最も大きなエアラインのひとつでした。
しかし2010年、日本航空は経営破綻してしまいました。負債は2兆円以上、株価はわずか3円。誰もが「もう終わりだ」と思いました。

そのとき、稲盛和夫さんが現れました。稲盛さんは京セラの創業者で、すでに退職していましたが、政府からの要請を受け、無給で日本航空のCEOに就任しました。

稲盛さんは、「数字」よりも「心」を変えることが大切だと考えました。
彼は『日本航空手帳』という本を作り、すべての社員に持たせました。その中には、二つの大切なメッセージがあります。

一つ目は、
「人間として正しいことをしなさい。」

二つ目は、
「結果 = 態度 × 努力 × 能力。」

このシンプルな言葉に、稲盛さんの哲学が詰まっています。どんなに能力があっても、態度が悪ければ良い結果は生まれません。だからこそ、態度と心がいちばん大切だということです。

稲盛さんはまた、「アメーバ経営」という方法を使いました。会社を小さなグループに分け、一人ひとりが自分の仕事に責任を持つようにしました。それによって社員は、「自分が会社を支えている」と感じるようになりました。

その結果、わずか1年で赤字は黒字に転じ、3年後には再び上場に成功しました。日本航空は、まさに奇跡の復活を遂げたのです。

この話から私が学んだことは、本当の危機は「数字」ではなく、「文化と心」にあるということです。そして、一人のリーダーが正しい哲学と信念を持っていれば、会社も人も必ず変わるということです。

倒産や失敗は、終わりではありません。それは、素晴らしい復活の始まりになることもあります。
そして、どんなに小さな仕事でも、「人間として正しいことをする」という稲盛さんの言葉を忘れず、毎日素直な心で頑張っていきたいと思います。

ご清聴ありがとうございました。

Dahulu, nama Japan Airlines (JAL) dikenal sebagai salah satu maskapai penerbangan terbesar di dunia.
Namun pada tahun 2010, Japan Airlines mengalami kebangkrutan. Total utangnya melebihi 2 triliun yen, dan harga sahamnya turun hingga hanya 3 yen. Semua orang berpikir, “Ini sudah berakhir.”

Pada saat itulah Kazuo Inamori muncul. Ia adalah pendiri Kyocera dan sebenarnya sudah pensiun, tetapi atas permintaan pemerintah, ia menerima jabatan sebagai CEO Japan Airlines tanpa menerima gaji.

Inamori percaya bahwa yang paling penting bukanlah mengubah “angka”, melainkan mengubah “hati dan pola pikir”.
Ia menyusun sebuah buku kecil berjudul Japan Airlines Handbook dan membagikannya kepada seluruh karyawan. Di dalamnya terdapat dua pesan yang sangat penting.

Pesan pertama adalah:
“Lakukanlah hal yang benar sebagai manusia.”

Pesan kedua adalah:
“Hasil = Sikap × Usaha × Kemampuan.”

Kata-kata sederhana ini merangkum filosofi Inamori. Tidak peduli seberapa tinggi kemampuan seseorang, jika sikapnya buruk, hasil yang baik tidak akan tercapai. Oleh karena itu, sikap dan hati adalah hal yang paling penting.

Selain itu, Inamori menerapkan metode yang disebut Manajemen Amoeba. Perusahaan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, dan setiap orang didorong untuk bertanggung jawab atas pekerjaannya sendiri. Dengan cara ini, para karyawan mulai merasa bahwa merekalah yang menopang perusahaan.

Hasilnya, hanya dalam satu tahun Japan Airlines berhasil beralih dari kerugian menjadi keuntungan, dan tiga tahun kemudian perusahaan berhasil melakukan pencatatan saham kembali di bursa. Japan Airlines benar-benar mengalami kebangkitan yang luar biasa.

Dari kisah ini, saya belajar bahwa krisis yang sesungguhnya bukanlah soal “angka”, melainkan “budaya dan hati”. Dan jika seorang pemimpin memiliki filosofi dan keyakinan yang benar, baik perusahaan maupun manusia pasti dapat berubah.

Kebangkrutan dan kegagalan bukanlah akhir. Keduanya bisa menjadi awal dari sebuah kebangkitan yang luar biasa.
Saya pun ingin selalu mengingat kata-kata Inamori, “melakukan hal yang benar sebagai manusia”, dan berusaha menjalani setiap hari dengan hati yang tulus, bahkan dalam pekerjaan sekecil apa pun.

Terima kasih atas perhatian Anda.